Kegunaan Imajinasi

Imajinasi yang canggih-canggih bisa berguna untuk merancang sesuatu, untuk merumuskan masa depan, untuk menggariskan tautan antar pikiran. Tapi paling mutakhir, imajinasi bisa berguna untuk menghibur diri sendiri.

Orang-orang mencari kebahagiaan lewat imajinasi. Jauh-jauh dicari lewat psikotropika, misalnya. Maka sisi beruntungnya seseorang yang punya imajinasi lebih tanpa bantuan, setidaknya bisa disarikan dari tangkapan kenyatan semacam itu.

Imajinasi sebagai hiburan, bisa sadis mengubah tangkapan keadaan. Seseorang bisa memaknai sesuatu di luar dari pemaknaan normal yang secara logis dipunyai banyak orang. Ini gila, tapi menghibur.

Lebih konyol lagi, imajinasi bisa menghubungkan antar gagasan acak sampai tidak berbentuk lagi. Letak konyolnya, ada di bentuk yang tidak berbentuk itu. Itu gila, tapi menghibur.

Beberapa orang gila memang menghibur. Itu kesimpulannya.

Tentang Satu Hal

“Bagaimana rasanya jika telah melakukan banyak hal tetapi luput dari mengerjakan hal paling penting?”

“Atau, bagaimana bila telah: mengetahui banyak hal tetapi lalai dari mengetahui hal paling berharga?”

“Seakan banyaknya tenaga dan pengetahuan itu tidak berguna sama sekali. Lalu pupus berganti dengan penyesalan.”

Tiga penggalan kalimat itu cuma bisa berdenging membingungkan seharian itu. Saya bukan orang yang punya banyak cadangan rasa antusiasme. Tapi kali itu, kalimat-kalimat itu berhasil membuat saya terpaksa berpikir keras.

Ah, gila. Saya pikir, dimulai darimana?