2267 : 5. Haiwah

Pandangannya kembali meruncing kepada sudut di kejauhan. Lalu aku kembali tersihir, tersulut rasa ingin tahu. Ia, setiap kali berpikir tentang sesuatu selalu punya pancaran tertentu di sudut mata. Kali ini pun begitu. Seakan aku dipaksa harus terus bersyukur karena masih membersamainya hingga sejauh ini. Lalu ilalang jalanan jadi kaku melambai. Seakan merasa terkutuk karena tak mampu memahami. Seperti halnya pertautan kimiawi dalam sinaps otakku yang menggigil kedinginan.

Katanya, “saya mungkin akan sampai di Poskav Malang besok pagi”.

Sementara bibirku telah membiru dan jemariku sekedar menunjuk kata-kata yang berterbangan sembarangan di hadapan wajahku, “Oh, ya? Don’t you know that won’t be.” Balasku.

Senyumnya lalu seketika melebar, kemudian dihadapinya kedua bola mataku dengan tatapan menelisik, “Do I have to trust you?”.

“Do I have to trust you back?” jawabku, mencibirnya.

Malam ini di Jakarta begitu dingin dan namaku, Haiwah.

未来

Bagiku, peradaban manusia sudah sangat tua untuk saling bertengkar tentang ideologi dan pengejawantahannya dalam hukum. Namun nafsu manusia tidak pernah lapuk untuk mengisi panggung kehidupan dengan kerakusan dan penindasan ekonomi. Manusia di sepanjang masa sama saja, yang berbeda adalah dimensi zaman yang membawanya pada suatu teknologi tertentu. Walaupun pada zaman ini, teori evolusi hanya sekedar jadi bumbu candaan guru-guru saat membahas asal mula kehidupan. Menurutku, kami sebenarnya telah melihat masa lalu sebelum berdirinya struktur pemerintahan kavling dunia sebagai suatu penyakit yang berbau menyengat.

Sama seperti seberkas suara riang yang kini mengetuk gendang telinga kanan dan kiriku, ia juga adalah masa lalu, suatu penyakit yang berbau menyengat. Ia melantun seperti lagu dan mencerahkan seperti pelangi. Suatu penyakit yang melekat padaku, tanpa aku sadari sejak pertama kali. Sejujurnya aku sudah terobsesi, jika mengingat bahwa aku telah menjaga belasan lembar flashdisk berisi satu jenis suara nenek moyangku itu di tempat paling tersembunyi di dalam kamarku.

“Kami mulai memiliki banyak gedung tinggi untuk di tempati..” katanya, sementara aku terus mencermati berulang kali, “Baik di Nusantara, Jepang maupun Amerika.” Aku untuk kesekian kali terpukau. Lalu berimajinasi, tak mampu memenangkan peperangan dengan akalku sendiri.

Sementara itu, ruang kelas masih kosong seperti biasa. Aku senantiasa jadi satu-satunya mahasiswa yang standby limabelas menit sebelum kuliah dimulai. Sejujurnya itu bukan karena aku sangat rajin atau sangat pintar sehingga bertingkah seperti ini. Hanya saja, roti cokelat itu tidak lebih menggiurkan dari rekaman suara yang telah berumur 240 tahun. Aku hanya dapat mendengarkannya dalam tempat seperti ini, di saat seperti ini, dimana tak ada orang tahu sehingga akan menyebutku gila karena belajar dari benda-benda lapuk. Mereka tidak tahu, bahwa terkadang penyakit itu menginspirasi dan bau menyengat itu seperti harum melati.

未来

30 anak berumur 18 tahun terpaksa duduk rapi melingkari seorang perempuan muda yang berbicara tanpa henti. Mimik wajah perempuan muda itu mudah berganti, searah ceramahnya – yang dipikirnya menarik bagi kami. Sementara bagiku, suara berumur 240 tahun itu masih terngiang-ngiang di telingaku,”Sebagian besar manusia hidup dengan satu bahasa”, bahkan setelah dua jam kelas filsafat kavling dimulai. Masih ada satu jam lagi yang harus kami hadapi sebelum penderitaan atas rasa bosan yang menimpa ini berakhir.

Ini adalah hari pertama kami berkuliah sebagai mahasiswa baru.

Ini adalah satu dari 21 kelas ilmu hukum yang ada di kavling Nusantara. Sebagian besar peserta kelas ilmu hukum adalah lulusan sekolah dasar yang memiliki Intellectual Stratum (IS) di sekitar angka 6 dalam indeks 10. Termasuk aku. Tentu saja kami adalah pelajar yang tidak patut dibanggakan, karena anak-anak lain yang dapat mengambil kelas penyakit dan pengobatan, teknik, kimia atau pertanian rata-rata memiliki IS di atas 8.

Kami dalam struktur sosial mahasiswa pada zaman ini adalah golongan menyedihkan yang tidak mampu membanggakan apapun, kecuali pada kenyataan bahwa kami adalah generasi yang harus mengisi kantor-kantor pengadilan di seluruh dunia. Tepatnya, suatu kantor pengadilan yang kepemimpinannya langgeng, tanpa suksesi. Seorang hakim dan jaksa adalah hakim dan jaksa sejak pengangkatannya sampai dengan kematian atau pengunduran dirinya, termasuk ketika mereka mendapat jabatan kepemimpinan umum. Tepatnya, kematian pada setiap umur 80 sampai 90 tahun. Atau pengunduran diri karena tindak pidana, yang sangat jarang terjadi. Semua orang tahu bahwa perputaran suksesi karir di kantor pengadilan saat ini sangat ‘sulit’.

Kenyataan lainnya adalah, bahwa 90% dari 44 pimpinan hakim dan jaksa setingkat kavling dan 7.000.000 pimpinan hakim dan jaksa setingkat poskav di seluruh dunia, saat ini baru berumur 26 sampai 36 tahun. Artinya, aku dan seluruh lulusan kelas hukum tahun ini mungkin harus menunggu sampai umur kami sekitar 60 tahun untuk benar-benar menjalankan tugas mulia ‘menyelenggarakan peradilan’. Tepatnya, tentu saja 50 tahun mendatang telah ada pula lulusan kelas hukum yang lebih muda dan berbakat yang lebih pantas memegang jabatan itu.

Sederhananya, menjadi lulusan kelas hukum pada tahun ini hingga 50 tahun mendatang adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Kami harus berebut menjadi panitera dan administrator pengadilan dengan lulusan kelas administrasi, ekonomi atau bidang sosial lainnya yang rata-rata lebih unggul di bidang pekerjaan itu. Pilihan lainnya adalah menjadi TNI, Polisi atau advokat yang harus mengambil sertifikasi profesi yang berat.

Tapi sejujurnya, setidaknya aku termasuk anak-tidak-berbakat yang beruntung karena dapat diterima di kelas hukum poskav Malang, salahsatu yang terbaik dalam peradaban ini.

未来

Lembut udara di Malang semakin terasa setelah proyek pembangunan hutan di kawasan jalan Veteran selesai pekan lalu. Itu adalah suatu proyek paling mencengangkan sepanjang 2 tahun belakangan. Selain dana yang spektakuler, kemenangan proposalnya dalam kongres tingkat poskav juga terlalu dramatis. Aku tidak terlalu tahu pasti. Setidaknya, aku mendengar kisahnya secara langsung dari Akaru. Aku tidak seperti kebanyakan orang yang hanya puas mendapat berita dari artikel via internet.

Maka sore ini aku kembali duduk disini seperti 3 sore yang sebelumnya. Memejamkan mataku, kembali mendengarkan Hitsujiko bicara dengan lancar dan mempesona di dalam kedua lubang telingaku.

“Hitsujiko pasti bahagia karena kamu tuh mirip banget sama dia.” Suara renyah itu tiba-tiba saja menghampiriku. Akaru, melepaskan headset dari telinga kananku.

Senyumnya mengembang seiring kulihat wajahnya dengan perlahan, tak kusangka.

“Maaf, tiket pesawatnya kesorean.” Katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *