2267 : 4. Rumah

“Sore hari bisa tiba-tiba berubah jadi tanda petaka bila angin panas di gunung turun ke lembah. Ia bisa jadi neraka bila lahar mengalir dengan derasnya. Tapi sayangnya itu hanya petaka dan neraka di dunia. Yang paling perlu kita takutkan adalah neraka di akhirat.” Haryo menutup kalimatnya dengan senyum ramah, mengambil sepotong ubi bakar yang ada di atas meja di depan mereka.

Akaru menelisik, melihat kepada lelaki yang lebih tua tiga belas tahun darinya itu saat menguraikan kalimatnya dengan bahasa Indonesia yang fasih dan mempesona. Tentu saja dalam politik tidak ada satu orangpun yang dapat dipercaya. Akaru menyandarkan punggungnya ke kursi bambu yang didudukinya, ia merasa beristirahat dalam suatu jalan perasaan yang aneh. Lembut udara Tangkuban Parahu kembali membelai rambut hitam lurus sebahunya yang diikat ke bagian belakang kepalanya.

“Apa yang membuat tulisan Hitsujiko masih begitu berpengaruh di marga Yan?” Haryo bertanya acak, mencoba membuka pembicaraan dengan Akaru.

Akaru memutar pikirannya kesana-kemari. Baru pertama kali ia ditanya hal yang semacam itu. Semua orang tahu bahwa Hitsujiko jadi berpengaruh karena ia adalah satu-satunya orang Jepang, khususnya marga Yan, yang termasuk aktivis dan pemikir inti dari berdirinya Partai Konvensional dan Kavling Global.

“Karena ia adalah pencetus gagasan Kavling Global, leluhur kami. Adakah alasan yang lain?” Akaru menjejalkan jawabannya dengan keraguan.

Haryo berseringai singkat. Pembicaraan ini tiba-tiba jadi menarik dalam jalan narasi yang aneh. “Ada Yan Horiguchi. Ada Yan Hitomi.” Haryo berkata singkat, mengonfrontir Akaru.

“Mereka tidak menulis sebanyak Hitsujiko.” Akaru membalasnya dengan ringan, lalu mengangkat cangkir tehnya dan meneguknya dengan tipis.

                “Naskah asli dari tulisan Hitsujiko dalam bahasa kami. Sementara ayah dan saudara laki-lakinya menulis dalam bahasa Jepang.”

“Tapi tetap saja Hitsujiko bukan orang Nusantara asli.” Akaru membalas Haryo dengan nada sentimentil.

“Bagi kami Hitsujiko adalah kerabat, sebagaimana kalian menilainya sebagai leluhur. Lagipula keturunan Hitsujiko tidak menyandang marga Yan, tapi mengikut pada marga suaminya, Yamada. Sementara keluargamu adalah keturunan Hitomi.”

“Apakah kalian mempelajari pohon keturunan kami sebagaimana kami menghafalnya sedari kecil?” Akaru meletakkan cangkirnya kembali ke meja. Lalu mengutarakan kalimatnya dengan gigi bergemeretak kesal.

Haryo menepuk-nepuk kedua belah tangannya, membersihkannya dari sisa-sisa arang ubi bakar. “Ya.” Jawabnya tajam.

“Tapi kupikir, memang Hitsujiko bukan orang Indonesia asli, tapi juga bukan orang Jepang asli. Dulu di masa hidupnya, orang-orang muslim di Indonesia dan mungkin di seluruh dunia juga, diserang pemikiran Islam liberal.”

“Suatu hari melalui berbagai diskusi dan pertemuan dengan banyak orang, Hitsujiko menyadari bahwa organisasi pergerakan Islam yang diikutinya juga punya banyak kader yang terjangkit pemikiran-pemikiran semacam itu. Tapi karena seperti yang dikatakannya sendiri, ia adalah seorang pemalas sejati. Ia memilih untuk meninggalkan organisasi yang telah membesarkannya selama 6 tahun itu. Daripada bersusah-payah memperbaikinya, ia memilih keluar untuk berkarya dengan ide-idenya sendiri. Tidak lama, ia baru kembali pulang ke rumah ayahnya, ke marga Yan, kembali ke Jepang setelah 12 tahun melarikan diri untuk belajar Islam ke Indonesia.”

“Di satu-satunya karyanya yang berbahasa Inggris sekaligus karya terakhirnya, Blood Memoirs, ia menyebut ayahnya sebagai The Spoking Tree yang membuatnya kembali untuk berbakti pada takdir darah marga Yan. Sebagian besar penulis biografinya menyebut Hitsujiko tidak pernah benar-benar memahami dan menganut paham nasionalisme sampai akhir hayatnya. Jika ia punya loyalitas kebangsaan maka kebangsaannya adalah Islam. Tapi di dalam memoar itu menurutku ia juga banyak mengungkapkan kesyukuran dan loyalitas terhadap marga Yan yang disebutnya sebagai akar keberadaan yang dikaruniakan Allah padanya. Juga, di dalam 6 bab panjang tersendiri, ia menulis tentang Nusantara sebagai bangsa yang dirindukannya. Kita sama-sama tahu bahwa walau bagaimanapun juga ia dilahirkan dari rahim orang Indonesia.”

“Ia hanya kembali tinggal di Nusantara pada tahun 2027 sampai 2033. Setelah itu melanjutkan kontribusinya pada Partai Konvensional dan gagasan-gagasan tentang Kavling Global di Asakusa, sebagai seorang marga Yan.” Akaru membalas Haryo dengan nada jengkel yang kentara.

“Jadi, aktivis muslim di Indonesia diperalat dalam rangka menyukseskan rancangan politik marga Yan, ya?”

“Ya, kalian harus menyadari itu dengan benar.”

Haryo tersenyum seakan melihat kelucuan kembang-tumbuh anak-anak, “Kami ikhlas untuk diperlakukan seperti itu ribuan kali. Seluruh orang di Partai Muslim akan mengatakan itu pada Yan Hitsujiko.”

Akaru bergidik ngeri. Berpikir bahwa ia memang berhadapan dengan mulut seorang politisi kawakan.

“Ah! Tentang pemikiran Islam liberal, aku jadi ingat seorang mahasiswa Arizona yang kupikir memiliki kepahaman mendalam tentang model berpikir celah paradoksal. Suatu model berpikir mendasar dari paham liberalisasi Islam.”

Akaru mencoba untuk tidak terlihat tertarik dengan pembicaraan Haryo. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin mendengar kelanjutan kalimat itu.

“Aku juga baru menyadarinya di sebuah artikel wawancara media massa Kampus Malang. Ia benar-benar berhasil terlihat cemerlang, seorang demosilog. Bangsawan Britanica mengenalnya sebagai The Highness Vincent Zoe the Crown Prince of the Great Britanica.”

Akaru mengerutkan dahinya singkat, tidak bisa menyembunyikan lagi ketertarikannya, “Memahami celah berpikir paradoksal?” tanyanya.

“Nanti kau akan mengetahuinya sendiri setelah membaca artikel itu. Apa kau jadi tertarik karena ia mungkin akan jadi lawan dan kawan berpolitikmu di masa depan? Karena ia calon raja orang-orang The North.”

“Tidak. Keluarga kami memiliki Kak Itachi.”

“Tapi Itachi sangat mengandalkanmu. Hahahaha…”

Akaru kembali mengerutkan dahinya dengan sekejap, tak ingin sempat diketahui.

“Aku belum pernah tahu tentang pemikiran Islam liberal.” Ujarnya, mengalihkan pembicaraan.

“Ada lebih dari 5 isu yang sempat diceritakan Hitsujiko tapi mungkin salahsatu yang berkesan bagiku adalah yang berjudul ‘Orang Kiri dan Kanan Memperalat di Persimpangan’. “

“Aku sudah membaca semua esai dan catatan kecil Hitsujiko tapi tidak ada yang berjudul seperti itu.”

“Sebagian lembar yang hilang dari kumpulan esai Catatan Musim Panas di rumahmu, tidak hilang di rumah kami.”

“Baiklah, apa isinya?”

“Bahwa orang kiri mengobarkan semangat perlawanan Islam dengan mengatakan bahwa para ustadz sudah tenggelam dalam arus kapitalisme. Sehingga ustadz-ustadz itu menjadikan Islam sebagai kedok agama yang palsu. Mereka bilang bahwa mereka ingin beragama dengan benar. Oleh karenanya, fatwa-fatwa para ustadz yang kapitalis itu harus ditinggalkan dan tafsir Al Qur’an dan hadist harus dibawa ke dalam konteks pemahaman komunis yang membela para mustadhafien.”

“Sementara orang kanan mengatakan bahwa orang muslim haruslah beragama seperti garam, bukan seperti gincu. Garam memberikan rasa walaupun tidak berwarna sedangkan gincu berwarna tetapi tidak memberikan rasa.”

“Hitsujiko mengomentari bahwa kedua perspektif itu tidak relevan. Pertama, mengatakan bahwa para ustadz sudah tenggelam dalam kapitalisme sehingga semua fatwa-fatwanya harus diganti dengan fatwa yang berpemahaman komunis adalah suatu pernyataan logika yang tidak absah. Hanya karena mereka menganggap apa-apa yang kapitalis harus diganti komunis karena tidak membela kaum mustadh’afien, bukan berarti apa-apa yang membela kaum mustadh’afien harus menjadi komunis. Ini adalah suatu pemahaman yang aneh karena seakan tidak menyadari bahwa Islam memiliki perangkat keilmuan tersendiri yang mati-matian diriwayatkan para sahabat rasul sampai kepada ulama-ulama di masa ini dimana banyak diantara mereka mengalami syahid atau penderitaan demi menjaga ilmu di hadapan kedzoliman. Hitsujiko mengutip sebuah pendapat dari buku Aqidah Islam tulisan Sayyid Sabiq, apakah logis memilih sepotong tangan untuk meninggalkan keseluruhan badan?”

“Kedua, menyuruh masing-masing muslim mendahulukan substansi dan melupakan simbol pelaksanaan keislamannya sama artinya berkeinginan menghilangkan Islamnya orang tersebut. Juga, jika orang kanan benar-benar meyakini kedaulatan individu seharusnya mereka setuju bahwa perwajahan suatu identitas akan dibangun melalui perilaku masing-masing anggotanya. Pengibaratan itu jadi tidak relevan karena di dalam Islam, aqidah sama pentingnya dengan amal yang menjadi buahnya. Larangan ikut-ikutan mengamalkan perilaku keyakinan orang non-muslim atau perintah berjilbab bagi muslimah agar keislamannya dikenali adalah bagian dari syariat yang tidak dipisah dari syariat Islam lainnya.”

“Sebentar, apakah di belakang artikel itu ada catatan mentah konsep berpikir matriks silogitik?” Akaru bertanya tanpa ragu.

“Ya, benar. Apa yang hilang hanya bagian-bagian ceritanya saja?”

“Sebutkan kalimat penutup dari chapter itu.”

“Aku tidak menghafalnya. Sesuatu tentang latarbelakang dan pembahasan.”

“Aku harus membaca catatan-catatan yang hilang itu dengan mata kepalaku sendiri.”

Haryo meletakkan gelas yang baru saja diangkatnya. Ia beranjak dari duduknya, dibuntuti Akaru untuk membuka koleksi buku-buku tua di rumah sederhana itu.

“Apa kau ingin mengerjakan sebuah proyek permainan denganku?” Haryo meluncurkan pertanyaannya sambil berjalan.

“Apa judul proyeknya?” balas Akaru asal. Ia merasa nyaman masuk ke dalam rumah itu dalam jalan perasaan yang belum pernah dialaminya.

“The True Positive Impact.”

“Baiklah, tapi saya tidak ingin mengeluarkan banyak tenaga sekedar untuk bermain.”

Haryo tersenyum ringan, “Kalian memang punya kemampuan bicara sebagai para pemalas sejati.”

未来

Akaru agak menyesali pertemuannya dengan Haryo setelah kunjungan di rumah sakit jiwa tadi siang. Ia menyesali keputusannya untuk berbincang dengan pimpinan Partai Muslim itu. Lebih menyesal lagi karena kini ia membawa pulang banyak hal untuk dipikirkan.

Haryo memberikan jawaban atas keingintahuannya. Tapi jawaban logis itu ingin sekali dibuangnya jauh-jauh. Akaru merasa telah mengambil perimbangan yang sulit.

“Apakah anda tidak ingin tahu mengapa Partai Konvensional berhasil menyatukan suara di seluruh kampus di seluruh dunia untuk mengangkatmu?” Haryo mengatakan kalimat itu seakan membaca isi pikirannya.

Akaru terdiam, kembali menelisik.

“Jangan pernah lupa bahwa Partai Muslim adalah satu-satunya yang cukup berpengaruh untuk ‘memulai’ mengusung calon pembanding.”

“Ya, seluruh orang di dunia tahu bahwa kalian adalah kuncian. Walaupun suara kalian tidak akan pernah setara dengan Partai Konvensional.” Akaru membalasnya dengan satir.

Haryo tersenyum tipis, “Yang ingin saya katakan, karena itu adalah anda maka hal semacam itu jadi mungkin. Kami merindukan kepemimpinan kerabat kami dari marga Yan.”

Akaru hanya menanggapinya dengan senyum mengejek, merasa dijebloskan dalam permainan kata-kata politis.

Tapi yang lebih membuatnya tak habis pikir adalah pertanyaan retoris Haryo yang selanjutnya, ”Apakah anda tidak penasaran tentang Islam sebagai agama yang anda kenal dalam tulisan Hitsujiko dan tentang Islam sebagai ideologi yang anda pandang sebagai identitas orang-orang Partai Muslim?”

Akaru kembali memilih untuk terdiam, bersiap mendengar perkataan Haryo lebih banyak lagi.

“Islam dalam tulisan Hitsujiko hanya suatu pandangan politik, hanya bagian kecil dari keseluruhan Islam. Bagian kecil itu sangat signifikan, yang menjadikan kami masih terus berjuang hingga hari ini. Tapi ia bukan bagian yang lengkap. Dan mengikuti pandangan politik Islam tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai seorang muslim sebelum ia mengikuti bagian-bagian ajaran Islam seluruhnya.” Haryo menahan perkataannya, melihat kepada Akaru yang duduk tegap menghadapinya, “disanalah letak perbedaan kita, Islam yang dijadikan pandangan politik di dalam keluargamu dan Islam yang kami ajarkan kepada anak-anak kami.”

“Bukankah kita telah membangun suatu peradaban yang membuat kita tersekat-sekat.” Haryo mengatakan kalimatnya dengan pandangan yang perlahan menunduk, binaran kekecewaan yang lekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *