2267 : 3. Akaru

Gadis itu kini membungkuk, menempatkan diri tepat di depannya yang terduduk dengan kesal. Tatapannya mekar ketika gadis itu berujar lembut seraya melihat langsung ke dalam matanya, “Kau tahu? Satu-satunya hal yang sangat mampu kulakukan adalah menjaga rahasia.”

Ruangan itu tiba-tiba membeku. Kini ia merasa bahwa hanya ada dirinya dan gadis itu disini. Keragu-raguannya perlahan sirna ketika ditatapnya lekat mata bulat itu untuk kesekian kali. ‘Ah, aku baru menyadarinya’, pikirnya, ‘gadis asli Nusantara ini sangat cantik’.

Ia lalu bangkit dari duduknya. Gadis itu melangkah mundur dengan gugup. Perlahan pandangannya mendongak, mengikuti tingginya postur tubuh lelaki itu. ‘Ah, aku berhasil’ gadis itu berpikir singkat.

Bau amonia perlahan kembali menyeruak. Sekarang setiap orang kembali hadir dalam tangkapan perasaannya. Masing-masing mereka ada di posisi yang khas dengan fungsinya. Seakan mengatur diri mengelilingi ia dan gadis itu di ruangan putih ini.

“Kemana lagi saya harus pergi?” tanyanya ketus, seakan tanpa tanda tanya.

Lalu rombongan 8 laki-laki berpakaian rapi itupun beranjak melanjutkan perjalanannya. Di antara mereka juga ada kepala rumahsakit dan kepala perawat yang telah berumur paruh baya, keadaan keduanya sama saja dengan rumahsakit yang dipimpinnya ini. Sementara lelaki berumur 20 tahun itu berjalan di baris pertama di tengah-tengah mereka untuk kembali berkeliling rumah sakit jiwa milik pemerintah yang hampir ditutup itu. Di belakang rombongan, gadis sawo matang itu membuntuti tanpa suara.

未来

Lelaki keturunan Jepang-Amerika itu bernama Yan Akarui. Dia mempercayai bahwa setiap orang hanya membutuhkan 3 jam untuk tidur di pukul 8 hingga 11 malam setiap harinya. Orang-orang yang tidur lebih dari itu adalah para pemalas yang harus dibebankan kerja paksa. Sehingga kenyataan bahwa di peradaban ini setiap orang dapat hidup tanpa bekerja keras adalah hal yang selalu membuatnya kesal membabi buta.

Berkeliling di fasilitas pemerintah yang hampir bangkrut adalah pekerjaan yang paling mengesalkan baginya. Baginya, kebangkrutan hanyalah vektor terikat dari tingkah malas sekumpulan pengelola. Instansi dan fasilitas pemerintah yang terancam bangkrut adalah sinyal kelesuan inovasi dan motivasi untuk bekerja keras, sebagaimana citra pemerintah yang dikenalnya di forum-forum diskusi kampus. Kegiatan semacam ini, sepanjang hari membuatnya berada dalam amarah.

Lalu hanya karena ia terpilih sebagai satu-satunya Presiden Mahasiswa untuk tiga tahun kedepan, ia harus dikawal, ditemui dan menemui orang-orang yang menyebalkan. Lebih dari merasa bersyukur atas keterpilihannya, setiap terbangun dari tidur, sejak hari pelantikan itu adalah kesialan baginya. Pasti menyakitkan membawa-bawa perasaan ‘ditumbalkan’ semacam itu di setiap tarikan napas.

Ia memang sangat gila kerja. Namun perspektifnya tentang ambisi masih buram. Ia mendukung persaingan politik tapi di sisi lain ia meragukan kredibilitas semua orang. Anggapannya bahwa semua orang yang berkuasa adalah setan-setan peradaban, seakan menjelma jadi doktrin ilmiah yang diyakininya. Kini, sayangnya, ia salahsatu dari mereka.

Kenyataan bahwa ia satu-satunya Presiden Mahasiswa untuk tiga tahun kedepan terlanjur menjebloskannya pada posisi yang begitu signifikan. Kemenangan partainya untuk menyatukan suara di lebih dari tujuh juta kampus di seluruh wilayah Kavling Global, memaksanya berada pada kedudukan yang begitu berpengaruh di hadapan pemerintahan kavling di seluruh dunia. Ia adalah sejarah yang akan dituliskan karena menjadi satu-satunya orang yang memiliki kekuatan politik semacam itu pada 30 tahun terakhir.

Wajah pasi Akaru hanya mengernyit ketika dilihatnya seorang pasien mengamuk di salahsatu ruangan yang dikunjunginya. Pasien perempuan itu menyerang dengan brutal dua dokter berpakaian merah muda dan empat perawat berpakaian putih-putih yang mencoba mengendalikannya dengan suntikan bius. Perasaan Akaru berkecamuk, lalu imajinya lepas terbang.

Ia begitu menyadari bahwa pada sebagian besar 200 tahun sejarah kampus, selalu ada 3, 4, 5, 6 atau 7 orang Presiden Mahasiswa yang dilantik sebagai hasil pemilihan tiga tahunan. Ia lalu teringat pada celoteh Hitsujiko yang dibingkai tulisan-tulisan beku yang selalu dibacanya sejak kanak-kanak. Hitsujiko bercerita tentang lingkaran Polybious yang mendasari asumsi ilmiah bentuk pemerintahan. Dikisahkannya, Polybious berpandangan bahwa bentuk pemerintahan berputar dari Monarki, Tirani, Aristoktrasi, Oligarki, Demokrasi dan Mobokrasi hingga kembali pada Tirani. Dalam tulisannya, Hitsujiko menertawakan dirinya sendiri seraya berpendapat bahwa doktrin Max Weber tentang minority rules the majority lebih masuk akal. Baginya, setiap variasi bentuk pemerintahan maupun struktur politik manapun hanyalah suatu abstraksi di antara oligarki atau aristokrasi. Ini hanya tentang ‘segerombolan politisi’ yang baik-baik atau buruk-buruk.

Akaru mungkin telah banyak memakan doktrin dari tulisan-tulisan Hitsujiko. Ia juga berpandangan bahwa setiap struktur politik hanyalah variasi atau bahkan, cover dari abstraksi antara oligarki dan aristokrasi. Pastilah ada sekelompok orang yang begitu solid mendorongnya berada dalam posisi ini. Walaupun begitu, bisikan hatinya berharap bahwa ia benar-benar termasuk aristokrat itu, lingkaran yang hakiki itu. Sebab jika begitu, mampulah ia meluruskan pandangannya, mengambil tanggungjawab atas keputusan-keputusan politiknya. Namun satu minggu masa baktinya ini, belum cukup untuk membuatnya dapat meyakini kebenaran asumsi-asumsinya itu.

Ia berjalan menegakkan kepala, merajut satu demi satu reaksi kimia yang bergejolak dalam sinaps-sinaps akalnya. Bahunya terasa begitu berat dan pangkal tulang punggung di belakang lehernya terasa begitu panas. Akaru masih menerbangkan imajinya seraya mendengarkan perkataan dari orang-orang di rombongannya. Ia mengeluarkan banyak kalori atas usaha-usahanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *