2267 : 2. Aurillac

“Aku akan menguji diriku sendiri, aku sangat sadar bahwa proposal itu disetujui dengan begitu mudah karena mereka segan memberi kritik. Sidang besar tidak berkualitas semacam itu bagi orang-orang Britanica adalah kehinaan. Berlagak seakan-akan-akan mereka sangat loyal. Tentu saja kita tidak bisa mempercayai orang yang akan dengan mudah bermulut manis seperti mereka.” Vincent berbicara dalam bahasa Perancis dengan fasih, berupaya terlihat mempesona untuk bermain-main dengan perasaan lawan bicaranya.

“Apa saja yang akan kau ujikan?” Zora menanggapinya dengan serius.

“Kemampuanku menggerakkan orang lain dan media. Setidaknya menuju sidang seperempat tahun Partai Konvensional.”

“Kau pasti akan melaluinya dengan nilai sempurna.” Gadis itu mempersembahkan secercah senyum cerah.

Vincent berseringai singkat, seakan perkataan itu telah mengurangi sebagian kegamangan terhadap kemampuan dirinya sendiri.

“Ini adalah hal yang tidak pernah keluarga kami lakukan selama 250 tahun.” Vincent menahan kalimatnya, mempertemukan pandangannya dengan Zora, “The Positive Impact. Menyasar dampak positif dari perseteruan busuk.”

“Menyasar dampak positif dari perseteruan busuk?” Zora mengulang kalimat itu dengan nada ketersimaan yang jelas.

Vincent menyandarkan dirinya ke punggung sofa, menyamankan dirinya untuk kembali terlihat hebat dengan berceloteh.

                “Kita tahu bahwa sejak awal, parlemen Inggris adalah bentukan segerombolan bangsawan yang tidak bisa disebut sepenuhnya tulus. Mereka itu sekedar para penguasa tanah dan penguasa pasar yang berebut kuasa pengurusan Negara dengan raja. Mereka bukan kaum intelektual yang ingin meluruskan keserakahan atau meninggikan ilmu pengetahuan. Mereka bahkan bukan rakyat berakal yang ingin mencari keadilan.”

“Dalam sejarah Inggris, salahsatu generasi parlemen Inggris yang mencapai stabilitas kekuatannya adalah parlemen Raja James II. Termasuk pada generasi itu juga, rakyat yang secara riil memilih perwakilannya hanya berjumlah 2% dari keseluruhan rakyat. Selain bahwa kebanyakan dari mereka masih kesulitan mendapat akses informasi, minimnya tingkat partisipasi politik itu memang disengaja. Birmingham, Manchester dan Sheffield tidak memiliki perwakilan. Sementara Buckingham diwakili 13 tokoh orang elite.”

“Tapi di dalam persekutuan dan perseteruan jahat itu, di Inggris orang-orang mengenal petisi dan menggunakannya sebagai bagian organik kehidupan bermasyarakat. Kau tahu, bahwa yang dibutuhkan parlemen adalah justifikasi politik publik. Itulah juga yang menyebabkan kita berada dalam situasi infrastruktur pemerintahan kolegial di Kavling Global ini.”

Zora mengernyitkan dahinya, berpikir melintang. Vincent kembali melanjutkan celotehnya.

                “Orang-orang parlemen yang ingin meruntuhkan monopoli dagang raja di pasar luar negeri membutuhkan dorongan rakyat untuk membuat-buat dan memenangkan kasus politik. Contohnya pada kasus Royal African Company vs Nightingale.”

“Royal African Company yang merepresentasikan saham James II hanya berhasil mengumpulkan 11 petisi yang ditandatangani 2.500 orang. Sementara Nightingale menerima 27 petisi dukungan yang ditandatangani 8.000 orang, menjadi justifikasi kemenangan orang-orang pasar yang duduk di parlemen untuk menghilangkan hak monopoli raja di perdagangan luar negeri.”

“Itu adalah kemenangan ketiga setelah generasi parlemen sebelum mereka mengeluarkan Statuta Monopoli yang melarang Raja James I melakukan monopoli dagang di dalam negeri dan parlemen The Roundheads menolak konsep pungutan pajak Raja Charles hingga ujung perang saudara I pada tahun 1649…”

“Sebentar. Baiklah, itu memang kisah perseteruan busuk. Lalu dimana dampak positifnya?” Zora memotong perkataan Vincent dengan bahasa Inggris yang santai.

“Petisi.” Jawab Vincent singkat.

“Petisi?”

“Didengarnya petisi rakyat di hadapan muka parlemen.” Vincent menahan kalimatnya, meminum coklat panasnya dengan tipis. Minuman itu terlalu pahit baginya, ia meletakkan gelas itu kembali ke meja.

“Satu hal yang dianggap baik dan menyenangkan akan dengan sukarela diperjuangkan orang-orang agar tetap eksis dalam kehidupan mereka. Lama-kelamaan mereka jadi punya ilusi bahwa itu adalah hak mereka sambil melupakan bahwa aslinya itu adalah pemberian dari para politisi. Setidaknya dari sanalah rakyat terlibat dalam perikehidupan bersama sehingga mereka termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri.”

“Gila.”

“Ya, memang begitu masa lalu. Orang-orang Britanica masih harus tertawa jika mengingat bagian depan cerita kemajuan bangsa mereka.”

Zora tertawa kecil, “Jadi bagaimana rencana semacam itu akan kau terapkan?”

                “Yang pasti secara khusus aku ingin menciptakan semacam perseteruan busuk untuk menggoyahkan generasi marga Yan. Kita boleh saja selalu kalah sekarang tapi di masa depan anak-anak kita akan mengalahkan mereka. Caranya hanya dalam satu jalan, mengembalikan propaganda dalam kehidupan friksi politik.”

“Propaganda dalam friksi politik?” Zora kembali melakukan kebiasaannya ketika terkesima.

“Propaganda sebenarnya barang standar dalam friksi politik, bukan? Menurunkan elite schism, menerjemahkannya dan mempromosikannya sebagai public schism yang isinya setengah benar dan setengah salah. Sejak parlemen Inggris di tahun 1623 memenangkan kepentingan ekonomi politiknya atas Raja Charles, kita tahu bahwa suara dan tangan masyarakat yang salah paham adalah alat politik yang signifikan. Sekarang, setelah semua orang kenyang dan puas dengan Kavling Global, kita harus mengembalikan dan mengasah-ulang alat yang berkarat itu pelan-pelan.”

“Ketika marga Yan masuk ke dalam pertempuran yang kita buat, mereka akan merevisi kurikulum pendidikan anak-anak mereka untuk memasukkan pelajaran citra diri dan kebangsawanan. Yang paling penting, kalangan pemuda mereka mulai meninjau ulang konsep yang sudah diperjuangkan bapak-bapak mereka, meragukannya.”

“Sebentar, bukankah itu baik bahwa mereka akan lebih kritis dan memperbaiki diri?”

“Ya… bisa saja. Tapi sejarah politik sebuah bangsa yang memulai perubahan dengan keraguan tidak pernah punya narasi seindah itu. Sebab dalam ruang kebaikan itu kita sebagai lawan politik, akan membantu sekaligus mengarahkan mereka. Setiap jalan pikiran punya simpangan sekalipun ia berkebalikan. “

“Dalam pengelolaan ekonomi politik sebelum menguatnya gagasan ketahanan pangan dan fiskal dari Partai Konvensional, tesis terakhirnya mendukung inklusifitas institusi ekonomi yang didukung sentralisasi politik. Tesis itu muncul karena para akademisi di masa itu sudah menyadari bahwa dalam perspektif pemikiran ekonomi berbasis individualisme, yang bermasalah adalah pindahnya setir politik pada golongan yang menguasai modal. Sementara dalam perspektif pemikiran ekonomi berbasis kelas, yang bermasalah adalah pindahnya setir ekonomi pada kelompok pembuat hukum. Absolutisme ekonomi politik, adalah celah paradoksal pada perspektif kesejahteraan kelas maupun individu. Maka di saat doktrin terakhir itu terbit, barulah Partai Konvensional memperjuangkan tipikal dari sudut yang amat baru, sentralisasi ekonomi dan inklusifitas institusi politik.”

“Gila.” Zora masih mengernyitkan dahinya sejenak sebelum melancarkan ekspresi ambigu-nya yang bagi Vincent terdengar kasar.

“Ya. Itu adalah ideologi politikku. Penggunaan celah paradoksal untuk menyukseskan The Positive Impact, memenangkan generasi kita atas generasi mereka.”

                “Kau benar-benar mengerikan.” Zora menahan perkataannya untuk yang pertama kali kepada Vincent, dengan gugup mengatakan isi pikirannya yang polos, “Do you wish me to trust you?”

Don’t you wish me to trust you back? Ya, memang, aku juga menyiapkan siasat militer disamping rencana politik. It can’t be help, kita butuh tangan yang kuat untuk pikiran yang kuat.”

Zora menggunakan telapak tangan kanannya untuk menutup ekspresi kagetnya, khas anak remaja putri yang tidak banyak bergaul. Gerak-geriknya canggung dan lucu.

“Paling maksimal jika aku terlibat sengketa politik yang sangat buruk, kau akan menjadi ratu yang terasing. Kita harus memilih Coleraine atau Pegunungan Antrim di Ulster sebagai tempat pembuangan, agar bisa menjadi orang Katholik yang taat dan berkeluarga dengan tenang.” Vincent mengakhiri kalimatnya dengan sudut mata yang merajuk seraya tersenyum sederhana untuk memperlihatkan sebaris gigi kecil dan kedua lesung pipinya yang manis.

Wajah Zora memerah tanpa dapat dihalanginya. Ia menyembunyikan rasa malunya dibalik cangkir putih. Lalu menjadi satu-satunya pihak yang mengucapkan janji tulusnya tanpa disuruh, termakan rayuan di serangan pertama, “Aku berjanji akan terus menemanimu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *