2267 : 5. Haiwah

Pandangannya kembali meruncing kepada sudut di kejauhan. Lalu aku kembali tersihir, tersulut rasa ingin tahu. Ia, setiap kali berpikir tentang sesuatu selalu punya pancaran tertentu di sudut mata. Kali ini pun begitu. Seakan aku dipaksa harus terus bersyukur karena masih membersamainya hingga sejauh ini. Lalu ilalang jalanan jadi kaku melambai. Seakan merasa terkutuk karena tak mampu memahami. Seperti halnya pertautan kimiawi dalam sinaps otakku yang menggigil kedinginan.

Katanya, “saya mungkin akan sampai di Poskav Malang besok pagi”.

Sementara bibirku telah membiru dan jemariku sekedar menunjuk kata-kata yang berterbangan sembarangan di hadapan wajahku, “Oh, ya? Don’t you know that won’t be.” Balasku.

Senyumnya lalu seketika melebar, kemudian dihadapinya kedua bola mataku dengan tatapan menelisik, “Do I have to trust you?”.

“Do I have to trust you back?” jawabku, mencibirnya.

Malam ini di Jakarta begitu dingin dan namaku, Haiwah.

未来

Bagiku, peradaban manusia sudah sangat tua untuk saling bertengkar tentang ideologi dan pengejawantahannya dalam hukum. Namun nafsu manusia tidak pernah lapuk untuk mengisi panggung kehidupan dengan kerakusan dan penindasan ekonomi. Manusia di sepanjang masa sama saja, yang berbeda adalah dimensi zaman yang membawanya pada suatu teknologi tertentu. Walaupun pada zaman ini, teori evolusi hanya sekedar jadi bumbu candaan guru-guru saat membahas asal mula kehidupan. Menurutku, kami sebenarnya telah melihat masa lalu sebelum berdirinya struktur pemerintahan kavling dunia sebagai suatu penyakit yang berbau menyengat.

Sama seperti seberkas suara riang yang kini mengetuk gendang telinga kanan dan kiriku, ia juga adalah masa lalu, suatu penyakit yang berbau menyengat. Ia melantun seperti lagu dan mencerahkan seperti pelangi. Suatu penyakit yang melekat padaku, tanpa aku sadari sejak pertama kali. Sejujurnya aku sudah terobsesi, jika mengingat bahwa aku telah menjaga belasan lembar flashdisk berisi satu jenis suara nenek moyangku itu di tempat paling tersembunyi di dalam kamarku.

“Kami mulai memiliki banyak gedung tinggi untuk di tempati..” katanya, sementara aku terus mencermati berulang kali, “Baik di Nusantara, Jepang maupun Amerika.” Aku untuk kesekian kali terpukau. Lalu berimajinasi, tak mampu memenangkan peperangan dengan akalku sendiri.

Sementara itu, ruang kelas masih kosong seperti biasa. Aku senantiasa jadi satu-satunya mahasiswa yang standby limabelas menit sebelum kuliah dimulai. Sejujurnya itu bukan karena aku sangat rajin atau sangat pintar sehingga bertingkah seperti ini. Hanya saja, roti cokelat itu tidak lebih menggiurkan dari rekaman suara yang telah berumur 240 tahun. Aku hanya dapat mendengarkannya dalam tempat seperti ini, di saat seperti ini, dimana tak ada orang tahu sehingga akan menyebutku gila karena belajar dari benda-benda lapuk. Mereka tidak tahu, bahwa terkadang penyakit itu menginspirasi dan bau menyengat itu seperti harum melati.

未来

30 anak berumur 18 tahun terpaksa duduk rapi melingkari seorang perempuan muda yang berbicara tanpa henti. Mimik wajah perempuan muda itu mudah berganti, searah ceramahnya – yang dipikirnya menarik bagi kami. Sementara bagiku, suara berumur 240 tahun itu masih terngiang-ngiang di telingaku,”Sebagian besar manusia hidup dengan satu bahasa”, bahkan setelah dua jam kelas filsafat kavling dimulai. Masih ada satu jam lagi yang harus kami hadapi sebelum penderitaan atas rasa bosan yang menimpa ini berakhir.

Ini adalah hari pertama kami berkuliah sebagai mahasiswa baru.

Ini adalah satu dari 21 kelas ilmu hukum yang ada di kavling Nusantara. Sebagian besar peserta kelas ilmu hukum adalah lulusan sekolah dasar yang memiliki Intellectual Stratum (IS) di sekitar angka 6 dalam indeks 10. Termasuk aku. Tentu saja kami adalah pelajar yang tidak patut dibanggakan, karena anak-anak lain yang dapat mengambil kelas penyakit dan pengobatan, teknik, kimia atau pertanian rata-rata memiliki IS di atas 8.

Kami dalam struktur sosial mahasiswa pada zaman ini adalah golongan menyedihkan yang tidak mampu membanggakan apapun, kecuali pada kenyataan bahwa kami adalah generasi yang harus mengisi kantor-kantor pengadilan di seluruh dunia. Tepatnya, suatu kantor pengadilan yang kepemimpinannya langgeng, tanpa suksesi. Seorang hakim dan jaksa adalah hakim dan jaksa sejak pengangkatannya sampai dengan kematian atau pengunduran dirinya, termasuk ketika mereka mendapat jabatan kepemimpinan umum. Tepatnya, kematian pada setiap umur 80 sampai 90 tahun. Atau pengunduran diri karena tindak pidana, yang sangat jarang terjadi. Semua orang tahu bahwa perputaran suksesi karir di kantor pengadilan saat ini sangat ‘sulit’.

Kenyataan lainnya adalah, bahwa 90% dari 44 pimpinan hakim dan jaksa setingkat kavling dan 7.000.000 pimpinan hakim dan jaksa setingkat poskav di seluruh dunia, saat ini baru berumur 26 sampai 36 tahun. Artinya, aku dan seluruh lulusan kelas hukum tahun ini mungkin harus menunggu sampai umur kami sekitar 60 tahun untuk benar-benar menjalankan tugas mulia ‘menyelenggarakan peradilan’. Tepatnya, tentu saja 50 tahun mendatang telah ada pula lulusan kelas hukum yang lebih muda dan berbakat yang lebih pantas memegang jabatan itu.

Sederhananya, menjadi lulusan kelas hukum pada tahun ini hingga 50 tahun mendatang adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Kami harus berebut menjadi panitera dan administrator pengadilan dengan lulusan kelas administrasi, ekonomi atau bidang sosial lainnya yang rata-rata lebih unggul di bidang pekerjaan itu. Pilihan lainnya adalah menjadi TNI, Polisi atau advokat yang harus mengambil sertifikasi profesi yang berat.

Tapi sejujurnya, setidaknya aku termasuk anak-tidak-berbakat yang beruntung karena dapat diterima di kelas hukum poskav Malang, salahsatu yang terbaik dalam peradaban ini.

未来

Lembut udara di Malang semakin terasa setelah proyek pembangunan hutan di kawasan jalan Veteran selesai pekan lalu. Itu adalah suatu proyek paling mencengangkan sepanjang 2 tahun belakangan. Selain dana yang spektakuler, kemenangan proposalnya dalam kongres tingkat poskav juga terlalu dramatis. Aku tidak terlalu tahu pasti. Setidaknya, aku mendengar kisahnya secara langsung dari Akaru. Aku tidak seperti kebanyakan orang yang hanya puas mendapat berita dari artikel via internet.

Maka sore ini aku kembali duduk disini seperti 3 sore yang sebelumnya. Memejamkan mataku, kembali mendengarkan Hitsujiko bicara dengan lancar dan mempesona di dalam kedua lubang telingaku.

“Hitsujiko pasti bahagia karena kamu tuh mirip banget sama dia.” Suara renyah itu tiba-tiba saja menghampiriku. Akaru, melepaskan headset dari telinga kananku.

Senyumnya mengembang seiring kulihat wajahnya dengan perlahan, tak kusangka.

“Maaf, tiket pesawatnya kesorean.” Katanya.

2267 : 4. Rumah

“Sore hari bisa tiba-tiba berubah jadi tanda petaka bila angin panas di gunung turun ke lembah. Ia bisa jadi neraka bila lahar mengalir dengan derasnya. Tapi sayangnya itu hanya petaka dan neraka di dunia. Yang paling perlu kita takutkan adalah neraka di akhirat.” Haryo menutup kalimatnya dengan senyum ramah, mengambil sepotong ubi bakar yang ada di atas meja di depan mereka.

Akaru menelisik, melihat kepada lelaki yang lebih tua tiga belas tahun darinya itu saat menguraikan kalimatnya dengan bahasa Indonesia yang fasih dan mempesona. Tentu saja dalam politik tidak ada satu orangpun yang dapat dipercaya. Akaru menyandarkan punggungnya ke kursi bambu yang didudukinya, ia merasa beristirahat dalam suatu jalan perasaan yang aneh. Lembut udara Tangkuban Parahu kembali membelai rambut hitam lurus sebahunya yang diikat ke bagian belakang kepalanya.

“Apa yang membuat tulisan Hitsujiko masih begitu berpengaruh di marga Yan?” Haryo bertanya acak, mencoba membuka pembicaraan dengan Akaru.

Akaru memutar pikirannya kesana-kemari. Baru pertama kali ia ditanya hal yang semacam itu. Semua orang tahu bahwa Hitsujiko jadi berpengaruh karena ia adalah satu-satunya orang Jepang, khususnya marga Yan, yang termasuk aktivis dan pemikir inti dari berdirinya Partai Konvensional dan Kavling Global.

“Karena ia adalah pencetus gagasan Kavling Global, leluhur kami. Adakah alasan yang lain?” Akaru menjejalkan jawabannya dengan keraguan.

Haryo berseringai singkat. Pembicaraan ini tiba-tiba jadi menarik dalam jalan narasi yang aneh. “Ada Yan Horiguchi. Ada Yan Hitomi.” Haryo berkata singkat, mengonfrontir Akaru.

“Mereka tidak menulis sebanyak Hitsujiko.” Akaru membalasnya dengan ringan, lalu mengangkat cangkir tehnya dan meneguknya dengan tipis.

                “Naskah asli dari tulisan Hitsujiko dalam bahasa kami. Sementara ayah dan saudara laki-lakinya menulis dalam bahasa Jepang.”

“Tapi tetap saja Hitsujiko bukan orang Nusantara asli.” Akaru membalas Haryo dengan nada sentimentil.

“Bagi kami Hitsujiko adalah kerabat, sebagaimana kalian menilainya sebagai leluhur. Lagipula keturunan Hitsujiko tidak menyandang marga Yan, tapi mengikut pada marga suaminya, Yamada. Sementara keluargamu adalah keturunan Hitomi.”

“Apakah kalian mempelajari pohon keturunan kami sebagaimana kami menghafalnya sedari kecil?” Akaru meletakkan cangkirnya kembali ke meja. Lalu mengutarakan kalimatnya dengan gigi bergemeretak kesal.

Haryo menepuk-nepuk kedua belah tangannya, membersihkannya dari sisa-sisa arang ubi bakar. “Ya.” Jawabnya tajam.

“Tapi kupikir, memang Hitsujiko bukan orang Indonesia asli, tapi juga bukan orang Jepang asli. Dulu di masa hidupnya, orang-orang muslim di Indonesia dan mungkin di seluruh dunia juga, diserang pemikiran Islam liberal.”

“Suatu hari melalui berbagai diskusi dan pertemuan dengan banyak orang, Hitsujiko menyadari bahwa organisasi pergerakan Islam yang diikutinya juga punya banyak kader yang terjangkit pemikiran-pemikiran semacam itu. Tapi karena seperti yang dikatakannya sendiri, ia adalah seorang pemalas sejati. Ia memilih untuk meninggalkan organisasi yang telah membesarkannya selama 6 tahun itu. Daripada bersusah-payah memperbaikinya, ia memilih keluar untuk berkarya dengan ide-idenya sendiri. Tidak lama, ia baru kembali pulang ke rumah ayahnya, ke marga Yan, kembali ke Jepang setelah 12 tahun melarikan diri untuk belajar Islam ke Indonesia.”

“Di satu-satunya karyanya yang berbahasa Inggris sekaligus karya terakhirnya, Blood Memoirs, ia menyebut ayahnya sebagai The Spoking Tree yang membuatnya kembali untuk berbakti pada takdir darah marga Yan. Sebagian besar penulis biografinya menyebut Hitsujiko tidak pernah benar-benar memahami dan menganut paham nasionalisme sampai akhir hayatnya. Jika ia punya loyalitas kebangsaan maka kebangsaannya adalah Islam. Tapi di dalam memoar itu menurutku ia juga banyak mengungkapkan kesyukuran dan loyalitas terhadap marga Yan yang disebutnya sebagai akar keberadaan yang dikaruniakan Allah padanya. Juga, di dalam 6 bab panjang tersendiri, ia menulis tentang Nusantara sebagai bangsa yang dirindukannya. Kita sama-sama tahu bahwa walau bagaimanapun juga ia dilahirkan dari rahim orang Indonesia.”

“Ia hanya kembali tinggal di Nusantara pada tahun 2027 sampai 2033. Setelah itu melanjutkan kontribusinya pada Partai Konvensional dan gagasan-gagasan tentang Kavling Global di Asakusa, sebagai seorang marga Yan.” Akaru membalas Haryo dengan nada jengkel yang kentara.

“Jadi, aktivis muslim di Indonesia diperalat dalam rangka menyukseskan rancangan politik marga Yan, ya?”

“Ya, kalian harus menyadari itu dengan benar.”

Haryo tersenyum seakan melihat kelucuan kembang-tumbuh anak-anak, “Kami ikhlas untuk diperlakukan seperti itu ribuan kali. Seluruh orang di Partai Muslim akan mengatakan itu pada Yan Hitsujiko.”

Akaru bergidik ngeri. Berpikir bahwa ia memang berhadapan dengan mulut seorang politisi kawakan.

“Ah! Tentang pemikiran Islam liberal, aku jadi ingat seorang mahasiswa Arizona yang kupikir memiliki kepahaman mendalam tentang model berpikir celah paradoksal. Suatu model berpikir mendasar dari paham liberalisasi Islam.”

Akaru mencoba untuk tidak terlihat tertarik dengan pembicaraan Haryo. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin mendengar kelanjutan kalimat itu.

“Aku juga baru menyadarinya di sebuah artikel wawancara media massa Kampus Malang. Ia benar-benar berhasil terlihat cemerlang, seorang demosilog. Bangsawan Britanica mengenalnya sebagai The Highness Vincent Zoe the Crown Prince of the Great Britanica.”

Akaru mengerutkan dahinya singkat, tidak bisa menyembunyikan lagi ketertarikannya, “Memahami celah berpikir paradoksal?” tanyanya.

“Nanti kau akan mengetahuinya sendiri setelah membaca artikel itu. Apa kau jadi tertarik karena ia mungkin akan jadi lawan dan kawan berpolitikmu di masa depan? Karena ia calon raja orang-orang The North.”

“Tidak. Keluarga kami memiliki Kak Itachi.”

“Tapi Itachi sangat mengandalkanmu. Hahahaha…”

Akaru kembali mengerutkan dahinya dengan sekejap, tak ingin sempat diketahui.

“Aku belum pernah tahu tentang pemikiran Islam liberal.” Ujarnya, mengalihkan pembicaraan.

“Ada lebih dari 5 isu yang sempat diceritakan Hitsujiko tapi mungkin salahsatu yang berkesan bagiku adalah yang berjudul ‘Orang Kiri dan Kanan Memperalat di Persimpangan’. “

“Aku sudah membaca semua esai dan catatan kecil Hitsujiko tapi tidak ada yang berjudul seperti itu.”

“Sebagian lembar yang hilang dari kumpulan esai Catatan Musim Panas di rumahmu, tidak hilang di rumah kami.”

“Baiklah, apa isinya?”

“Bahwa orang kiri mengobarkan semangat perlawanan Islam dengan mengatakan bahwa para ustadz sudah tenggelam dalam arus kapitalisme. Sehingga ustadz-ustadz itu menjadikan Islam sebagai kedok agama yang palsu. Mereka bilang bahwa mereka ingin beragama dengan benar. Oleh karenanya, fatwa-fatwa para ustadz yang kapitalis itu harus ditinggalkan dan tafsir Al Qur’an dan hadist harus dibawa ke dalam konteks pemahaman komunis yang membela para mustadhafien.”

“Sementara orang kanan mengatakan bahwa orang muslim haruslah beragama seperti garam, bukan seperti gincu. Garam memberikan rasa walaupun tidak berwarna sedangkan gincu berwarna tetapi tidak memberikan rasa.”

“Hitsujiko mengomentari bahwa kedua perspektif itu tidak relevan. Pertama, mengatakan bahwa para ustadz sudah tenggelam dalam kapitalisme sehingga semua fatwa-fatwanya harus diganti dengan fatwa yang berpemahaman komunis adalah suatu pernyataan logika yang tidak absah. Hanya karena mereka menganggap apa-apa yang kapitalis harus diganti komunis karena tidak membela kaum mustadh’afien, bukan berarti apa-apa yang membela kaum mustadh’afien harus menjadi komunis. Ini adalah suatu pemahaman yang aneh karena seakan tidak menyadari bahwa Islam memiliki perangkat keilmuan tersendiri yang mati-matian diriwayatkan para sahabat rasul sampai kepada ulama-ulama di masa ini dimana banyak diantara mereka mengalami syahid atau penderitaan demi menjaga ilmu di hadapan kedzoliman. Hitsujiko mengutip sebuah pendapat dari buku Aqidah Islam tulisan Sayyid Sabiq, apakah logis memilih sepotong tangan untuk meninggalkan keseluruhan badan?”

“Kedua, menyuruh masing-masing muslim mendahulukan substansi dan melupakan simbol pelaksanaan keislamannya sama artinya berkeinginan menghilangkan Islamnya orang tersebut. Juga, jika orang kanan benar-benar meyakini kedaulatan individu seharusnya mereka setuju bahwa perwajahan suatu identitas akan dibangun melalui perilaku masing-masing anggotanya. Pengibaratan itu jadi tidak relevan karena di dalam Islam, aqidah sama pentingnya dengan amal yang menjadi buahnya. Larangan ikut-ikutan mengamalkan perilaku keyakinan orang non-muslim atau perintah berjilbab bagi muslimah agar keislamannya dikenali adalah bagian dari syariat yang tidak dipisah dari syariat Islam lainnya.”

“Sebentar, apakah di belakang artikel itu ada catatan mentah konsep berpikir matriks silogitik?” Akaru bertanya tanpa ragu.

“Ya, benar. Apa yang hilang hanya bagian-bagian ceritanya saja?”

“Sebutkan kalimat penutup dari chapter itu.”

“Aku tidak menghafalnya. Sesuatu tentang latarbelakang dan pembahasan.”

“Aku harus membaca catatan-catatan yang hilang itu dengan mata kepalaku sendiri.”

Haryo meletakkan gelas yang baru saja diangkatnya. Ia beranjak dari duduknya, dibuntuti Akaru untuk membuka koleksi buku-buku tua di rumah sederhana itu.

“Apa kau ingin mengerjakan sebuah proyek permainan denganku?” Haryo meluncurkan pertanyaannya sambil berjalan.

“Apa judul proyeknya?” balas Akaru asal. Ia merasa nyaman masuk ke dalam rumah itu dalam jalan perasaan yang belum pernah dialaminya.

“The True Positive Impact.”

“Baiklah, tapi saya tidak ingin mengeluarkan banyak tenaga sekedar untuk bermain.”

Haryo tersenyum ringan, “Kalian memang punya kemampuan bicara sebagai para pemalas sejati.”

未来

Akaru agak menyesali pertemuannya dengan Haryo setelah kunjungan di rumah sakit jiwa tadi siang. Ia menyesali keputusannya untuk berbincang dengan pimpinan Partai Muslim itu. Lebih menyesal lagi karena kini ia membawa pulang banyak hal untuk dipikirkan.

Haryo memberikan jawaban atas keingintahuannya. Tapi jawaban logis itu ingin sekali dibuangnya jauh-jauh. Akaru merasa telah mengambil perimbangan yang sulit.

“Apakah anda tidak ingin tahu mengapa Partai Konvensional berhasil menyatukan suara di seluruh kampus di seluruh dunia untuk mengangkatmu?” Haryo mengatakan kalimat itu seakan membaca isi pikirannya.

Akaru terdiam, kembali menelisik.

“Jangan pernah lupa bahwa Partai Muslim adalah satu-satunya yang cukup berpengaruh untuk ‘memulai’ mengusung calon pembanding.”

“Ya, seluruh orang di dunia tahu bahwa kalian adalah kuncian. Walaupun suara kalian tidak akan pernah setara dengan Partai Konvensional.” Akaru membalasnya dengan satir.

Haryo tersenyum tipis, “Yang ingin saya katakan, karena itu adalah anda maka hal semacam itu jadi mungkin. Kami merindukan kepemimpinan kerabat kami dari marga Yan.”

Akaru hanya menanggapinya dengan senyum mengejek, merasa dijebloskan dalam permainan kata-kata politis.

Tapi yang lebih membuatnya tak habis pikir adalah pertanyaan retoris Haryo yang selanjutnya, ”Apakah anda tidak penasaran tentang Islam sebagai agama yang anda kenal dalam tulisan Hitsujiko dan tentang Islam sebagai ideologi yang anda pandang sebagai identitas orang-orang Partai Muslim?”

Akaru kembali memilih untuk terdiam, bersiap mendengar perkataan Haryo lebih banyak lagi.

“Islam dalam tulisan Hitsujiko hanya suatu pandangan politik, hanya bagian kecil dari keseluruhan Islam. Bagian kecil itu sangat signifikan, yang menjadikan kami masih terus berjuang hingga hari ini. Tapi ia bukan bagian yang lengkap. Dan mengikuti pandangan politik Islam tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai seorang muslim sebelum ia mengikuti bagian-bagian ajaran Islam seluruhnya.” Haryo menahan perkataannya, melihat kepada Akaru yang duduk tegap menghadapinya, “disanalah letak perbedaan kita, Islam yang dijadikan pandangan politik di dalam keluargamu dan Islam yang kami ajarkan kepada anak-anak kami.”

“Bukankah kita telah membangun suatu peradaban yang membuat kita tersekat-sekat.” Haryo mengatakan kalimatnya dengan pandangan yang perlahan menunduk, binaran kekecewaan yang lekat.

2267 : 3. Akaru

Gadis itu kini membungkuk, menempatkan diri tepat di depannya yang terduduk dengan kesal. Tatapannya mekar ketika gadis itu berujar lembut seraya melihat langsung ke dalam matanya, “Kau tahu? Satu-satunya hal yang sangat mampu kulakukan adalah menjaga rahasia.”

Ruangan itu tiba-tiba membeku. Kini ia merasa bahwa hanya ada dirinya dan gadis itu disini. Keragu-raguannya perlahan sirna ketika ditatapnya lekat mata bulat itu untuk kesekian kali. ‘Ah, aku baru menyadarinya’, pikirnya, ‘gadis asli Nusantara ini sangat cantik’.

Ia lalu bangkit dari duduknya. Gadis itu melangkah mundur dengan gugup. Perlahan pandangannya mendongak, mengikuti tingginya postur tubuh lelaki itu. ‘Ah, aku berhasil’ gadis itu berpikir singkat.

Bau amonia perlahan kembali menyeruak. Sekarang setiap orang kembali hadir dalam tangkapan perasaannya. Masing-masing mereka ada di posisi yang khas dengan fungsinya. Seakan mengatur diri mengelilingi ia dan gadis itu di ruangan putih ini.

“Kemana lagi saya harus pergi?” tanyanya ketus, seakan tanpa tanda tanya.

Lalu rombongan 8 laki-laki berpakaian rapi itupun beranjak melanjutkan perjalanannya. Di antara mereka juga ada kepala rumahsakit dan kepala perawat yang telah berumur paruh baya, keadaan keduanya sama saja dengan rumahsakit yang dipimpinnya ini. Sementara lelaki berumur 20 tahun itu berjalan di baris pertama di tengah-tengah mereka untuk kembali berkeliling rumah sakit jiwa milik pemerintah yang hampir ditutup itu. Di belakang rombongan, gadis sawo matang itu membuntuti tanpa suara.

未来

Lelaki keturunan Jepang-Amerika itu bernama Yan Akarui. Dia mempercayai bahwa setiap orang hanya membutuhkan 3 jam untuk tidur di pukul 8 hingga 11 malam setiap harinya. Orang-orang yang tidur lebih dari itu adalah para pemalas yang harus dibebankan kerja paksa. Sehingga kenyataan bahwa di peradaban ini setiap orang dapat hidup tanpa bekerja keras adalah hal yang selalu membuatnya kesal membabi buta.

Berkeliling di fasilitas pemerintah yang hampir bangkrut adalah pekerjaan yang paling mengesalkan baginya. Baginya, kebangkrutan hanyalah vektor terikat dari tingkah malas sekumpulan pengelola. Instansi dan fasilitas pemerintah yang terancam bangkrut adalah sinyal kelesuan inovasi dan motivasi untuk bekerja keras, sebagaimana citra pemerintah yang dikenalnya di forum-forum diskusi kampus. Kegiatan semacam ini, sepanjang hari membuatnya berada dalam amarah.

Lalu hanya karena ia terpilih sebagai satu-satunya Presiden Mahasiswa untuk tiga tahun kedepan, ia harus dikawal, ditemui dan menemui orang-orang yang menyebalkan. Lebih dari merasa bersyukur atas keterpilihannya, setiap terbangun dari tidur, sejak hari pelantikan itu adalah kesialan baginya. Pasti menyakitkan membawa-bawa perasaan ‘ditumbalkan’ semacam itu di setiap tarikan napas.

Ia memang sangat gila kerja. Namun perspektifnya tentang ambisi masih buram. Ia mendukung persaingan politik tapi di sisi lain ia meragukan kredibilitas semua orang. Anggapannya bahwa semua orang yang berkuasa adalah setan-setan peradaban, seakan menjelma jadi doktrin ilmiah yang diyakininya. Kini, sayangnya, ia salahsatu dari mereka.

Kenyataan bahwa ia satu-satunya Presiden Mahasiswa untuk tiga tahun kedepan terlanjur menjebloskannya pada posisi yang begitu signifikan. Kemenangan partainya untuk menyatukan suara di lebih dari tujuh juta kampus di seluruh wilayah Kavling Global, memaksanya berada pada kedudukan yang begitu berpengaruh di hadapan pemerintahan kavling di seluruh dunia. Ia adalah sejarah yang akan dituliskan karena menjadi satu-satunya orang yang memiliki kekuatan politik semacam itu pada 30 tahun terakhir.

Wajah pasi Akaru hanya mengernyit ketika dilihatnya seorang pasien mengamuk di salahsatu ruangan yang dikunjunginya. Pasien perempuan itu menyerang dengan brutal dua dokter berpakaian merah muda dan empat perawat berpakaian putih-putih yang mencoba mengendalikannya dengan suntikan bius. Perasaan Akaru berkecamuk, lalu imajinya lepas terbang.

Ia begitu menyadari bahwa pada sebagian besar 200 tahun sejarah kampus, selalu ada 3, 4, 5, 6 atau 7 orang Presiden Mahasiswa yang dilantik sebagai hasil pemilihan tiga tahunan. Ia lalu teringat pada celoteh Hitsujiko yang dibingkai tulisan-tulisan beku yang selalu dibacanya sejak kanak-kanak. Hitsujiko bercerita tentang lingkaran Polybious yang mendasari asumsi ilmiah bentuk pemerintahan. Dikisahkannya, Polybious berpandangan bahwa bentuk pemerintahan berputar dari Monarki, Tirani, Aristoktrasi, Oligarki, Demokrasi dan Mobokrasi hingga kembali pada Tirani. Dalam tulisannya, Hitsujiko menertawakan dirinya sendiri seraya berpendapat bahwa doktrin Max Weber tentang minority rules the majority lebih masuk akal. Baginya, setiap variasi bentuk pemerintahan maupun struktur politik manapun hanyalah suatu abstraksi di antara oligarki atau aristokrasi. Ini hanya tentang ‘segerombolan politisi’ yang baik-baik atau buruk-buruk.

Akaru mungkin telah banyak memakan doktrin dari tulisan-tulisan Hitsujiko. Ia juga berpandangan bahwa setiap struktur politik hanyalah variasi atau bahkan, cover dari abstraksi antara oligarki dan aristokrasi. Pastilah ada sekelompok orang yang begitu solid mendorongnya berada dalam posisi ini. Walaupun begitu, bisikan hatinya berharap bahwa ia benar-benar termasuk aristokrat itu, lingkaran yang hakiki itu. Sebab jika begitu, mampulah ia meluruskan pandangannya, mengambil tanggungjawab atas keputusan-keputusan politiknya. Namun satu minggu masa baktinya ini, belum cukup untuk membuatnya dapat meyakini kebenaran asumsi-asumsinya itu.

Ia berjalan menegakkan kepala, merajut satu demi satu reaksi kimia yang bergejolak dalam sinaps-sinaps akalnya. Bahunya terasa begitu berat dan pangkal tulang punggung di belakang lehernya terasa begitu panas. Akaru masih menerbangkan imajinya seraya mendengarkan perkataan dari orang-orang di rombongannya. Ia mengeluarkan banyak kalori atas usaha-usahanya.

2267 : 2. Aurillac

“Aku akan menguji diriku sendiri, aku sangat sadar bahwa proposal itu disetujui dengan begitu mudah karena mereka segan memberi kritik. Sidang besar tidak berkualitas semacam itu bagi orang-orang Britanica adalah kehinaan. Berlagak seakan-akan-akan mereka sangat loyal. Tentu saja kita tidak bisa mempercayai orang yang akan dengan mudah bermulut manis seperti mereka.” Vincent berbicara dalam bahasa Perancis dengan fasih, berupaya terlihat mempesona untuk bermain-main dengan perasaan lawan bicaranya.

“Apa saja yang akan kau ujikan?” Zora menanggapinya dengan serius.

“Kemampuanku menggerakkan orang lain dan media. Setidaknya menuju sidang seperempat tahun Partai Konvensional.”

“Kau pasti akan melaluinya dengan nilai sempurna.” Gadis itu mempersembahkan secercah senyum cerah.

Vincent berseringai singkat, seakan perkataan itu telah mengurangi sebagian kegamangan terhadap kemampuan dirinya sendiri.

“Ini adalah hal yang tidak pernah keluarga kami lakukan selama 250 tahun.” Vincent menahan kalimatnya, mempertemukan pandangannya dengan Zora, “The Positive Impact. Menyasar dampak positif dari perseteruan busuk.”

“Menyasar dampak positif dari perseteruan busuk?” Zora mengulang kalimat itu dengan nada ketersimaan yang jelas.

Vincent menyandarkan dirinya ke punggung sofa, menyamankan dirinya untuk kembali terlihat hebat dengan berceloteh.

                “Kita tahu bahwa sejak awal, parlemen Inggris adalah bentukan segerombolan bangsawan yang tidak bisa disebut sepenuhnya tulus. Mereka itu sekedar para penguasa tanah dan penguasa pasar yang berebut kuasa pengurusan Negara dengan raja. Mereka bukan kaum intelektual yang ingin meluruskan keserakahan atau meninggikan ilmu pengetahuan. Mereka bahkan bukan rakyat berakal yang ingin mencari keadilan.”

“Dalam sejarah Inggris, salahsatu generasi parlemen Inggris yang mencapai stabilitas kekuatannya adalah parlemen Raja James II. Termasuk pada generasi itu juga, rakyat yang secara riil memilih perwakilannya hanya berjumlah 2% dari keseluruhan rakyat. Selain bahwa kebanyakan dari mereka masih kesulitan mendapat akses informasi, minimnya tingkat partisipasi politik itu memang disengaja. Birmingham, Manchester dan Sheffield tidak memiliki perwakilan. Sementara Buckingham diwakili 13 tokoh orang elite.”

“Tapi di dalam persekutuan dan perseteruan jahat itu, di Inggris orang-orang mengenal petisi dan menggunakannya sebagai bagian organik kehidupan bermasyarakat. Kau tahu, bahwa yang dibutuhkan parlemen adalah justifikasi politik publik. Itulah juga yang menyebabkan kita berada dalam situasi infrastruktur pemerintahan kolegial di Kavling Global ini.”

Zora mengernyitkan dahinya, berpikir melintang. Vincent kembali melanjutkan celotehnya.

                “Orang-orang parlemen yang ingin meruntuhkan monopoli dagang raja di pasar luar negeri membutuhkan dorongan rakyat untuk membuat-buat dan memenangkan kasus politik. Contohnya pada kasus Royal African Company vs Nightingale.”

“Royal African Company yang merepresentasikan saham James II hanya berhasil mengumpulkan 11 petisi yang ditandatangani 2.500 orang. Sementara Nightingale menerima 27 petisi dukungan yang ditandatangani 8.000 orang, menjadi justifikasi kemenangan orang-orang pasar yang duduk di parlemen untuk menghilangkan hak monopoli raja di perdagangan luar negeri.”

“Itu adalah kemenangan ketiga setelah generasi parlemen sebelum mereka mengeluarkan Statuta Monopoli yang melarang Raja James I melakukan monopoli dagang di dalam negeri dan parlemen The Roundheads menolak konsep pungutan pajak Raja Charles hingga ujung perang saudara I pada tahun 1649…”

“Sebentar. Baiklah, itu memang kisah perseteruan busuk. Lalu dimana dampak positifnya?” Zora memotong perkataan Vincent dengan bahasa Inggris yang santai.

“Petisi.” Jawab Vincent singkat.

“Petisi?”

“Didengarnya petisi rakyat di hadapan muka parlemen.” Vincent menahan kalimatnya, meminum coklat panasnya dengan tipis. Minuman itu terlalu pahit baginya, ia meletakkan gelas itu kembali ke meja.

“Satu hal yang dianggap baik dan menyenangkan akan dengan sukarela diperjuangkan orang-orang agar tetap eksis dalam kehidupan mereka. Lama-kelamaan mereka jadi punya ilusi bahwa itu adalah hak mereka sambil melupakan bahwa aslinya itu adalah pemberian dari para politisi. Setidaknya dari sanalah rakyat terlibat dalam perikehidupan bersama sehingga mereka termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri.”

“Gila.”

“Ya, memang begitu masa lalu. Orang-orang Britanica masih harus tertawa jika mengingat bagian depan cerita kemajuan bangsa mereka.”

Zora tertawa kecil, “Jadi bagaimana rencana semacam itu akan kau terapkan?”

                “Yang pasti secara khusus aku ingin menciptakan semacam perseteruan busuk untuk menggoyahkan generasi marga Yan. Kita boleh saja selalu kalah sekarang tapi di masa depan anak-anak kita akan mengalahkan mereka. Caranya hanya dalam satu jalan, mengembalikan propaganda dalam kehidupan friksi politik.”

“Propaganda dalam friksi politik?” Zora kembali melakukan kebiasaannya ketika terkesima.

“Propaganda sebenarnya barang standar dalam friksi politik, bukan? Menurunkan elite schism, menerjemahkannya dan mempromosikannya sebagai public schism yang isinya setengah benar dan setengah salah. Sejak parlemen Inggris di tahun 1623 memenangkan kepentingan ekonomi politiknya atas Raja Charles, kita tahu bahwa suara dan tangan masyarakat yang salah paham adalah alat politik yang signifikan. Sekarang, setelah semua orang kenyang dan puas dengan Kavling Global, kita harus mengembalikan dan mengasah-ulang alat yang berkarat itu pelan-pelan.”

“Ketika marga Yan masuk ke dalam pertempuran yang kita buat, mereka akan merevisi kurikulum pendidikan anak-anak mereka untuk memasukkan pelajaran citra diri dan kebangsawanan. Yang paling penting, kalangan pemuda mereka mulai meninjau ulang konsep yang sudah diperjuangkan bapak-bapak mereka, meragukannya.”

“Sebentar, bukankah itu baik bahwa mereka akan lebih kritis dan memperbaiki diri?”

“Ya… bisa saja. Tapi sejarah politik sebuah bangsa yang memulai perubahan dengan keraguan tidak pernah punya narasi seindah itu. Sebab dalam ruang kebaikan itu kita sebagai lawan politik, akan membantu sekaligus mengarahkan mereka. Setiap jalan pikiran punya simpangan sekalipun ia berkebalikan. “

“Dalam pengelolaan ekonomi politik sebelum menguatnya gagasan ketahanan pangan dan fiskal dari Partai Konvensional, tesis terakhirnya mendukung inklusifitas institusi ekonomi yang didukung sentralisasi politik. Tesis itu muncul karena para akademisi di masa itu sudah menyadari bahwa dalam perspektif pemikiran ekonomi berbasis individualisme, yang bermasalah adalah pindahnya setir politik pada golongan yang menguasai modal. Sementara dalam perspektif pemikiran ekonomi berbasis kelas, yang bermasalah adalah pindahnya setir ekonomi pada kelompok pembuat hukum. Absolutisme ekonomi politik, adalah celah paradoksal pada perspektif kesejahteraan kelas maupun individu. Maka di saat doktrin terakhir itu terbit, barulah Partai Konvensional memperjuangkan tipikal dari sudut yang amat baru, sentralisasi ekonomi dan inklusifitas institusi politik.”

“Gila.” Zora masih mengernyitkan dahinya sejenak sebelum melancarkan ekspresi ambigu-nya yang bagi Vincent terdengar kasar.

“Ya. Itu adalah ideologi politikku. Penggunaan celah paradoksal untuk menyukseskan The Positive Impact, memenangkan generasi kita atas generasi mereka.”

                “Kau benar-benar mengerikan.” Zora menahan perkataannya untuk yang pertama kali kepada Vincent, dengan gugup mengatakan isi pikirannya yang polos, “Do you wish me to trust you?”

Don’t you wish me to trust you back? Ya, memang, aku juga menyiapkan siasat militer disamping rencana politik. It can’t be help, kita butuh tangan yang kuat untuk pikiran yang kuat.”

Zora menggunakan telapak tangan kanannya untuk menutup ekspresi kagetnya, khas anak remaja putri yang tidak banyak bergaul. Gerak-geriknya canggung dan lucu.

“Paling maksimal jika aku terlibat sengketa politik yang sangat buruk, kau akan menjadi ratu yang terasing. Kita harus memilih Coleraine atau Pegunungan Antrim di Ulster sebagai tempat pembuangan, agar bisa menjadi orang Katholik yang taat dan berkeluarga dengan tenang.” Vincent mengakhiri kalimatnya dengan sudut mata yang merajuk seraya tersenyum sederhana untuk memperlihatkan sebaris gigi kecil dan kedua lesung pipinya yang manis.

Wajah Zora memerah tanpa dapat dihalanginya. Ia menyembunyikan rasa malunya dibalik cangkir putih. Lalu menjadi satu-satunya pihak yang mengucapkan janji tulusnya tanpa disuruh, termakan rayuan di serangan pertama, “Aku berjanji akan terus menemanimu.”

2267 : 1. Ballroom

Tiga perempat dari 2300 lantai The North Tower di Alaska telah disewa untuk penyelenggaraan pertemuan keluarga besar Britanica. Lebih dari 300.000 bangsawan yang terdiri dari orang lanjut usia, paruh baya hingga remaja, anak-anak dan bayi telah menginap disana selama 9 hari. Mereka datang dari segala penjuru dunia.

Pertemuan itu disebut The Ballroom Meeting. Selain untuk saling mengenal sebagai sebuah keluarga besar, pertemuan itu adalah pertemuan yang dikelola secara sukarela oleh raja dan saudara-saudara kandungnya sebagai core family Britanica. Agenda utama di luar serangkaian agenda ramah-tamah yang berlarut-larut adalah agenda pembaruan rumusan rencana politik berisi konsep pengelolaan aset bersama, pengurusan suksesi-suksesi di setiap Kavling dan pembaruan silsilah keluarga berikut keterangan status politik dan profesi setiap anggotanya. Namun pada tahun ini, agenda utama itu ditambah lagi dengan perumusan rencana politik tambahan dan penobatan putera mahkota.

Sebuah ruangan berbentuk bola sempurna berukuran lebih dari 500.000m3 kembali menghias dirinya dengan lampu-lampu terang. 30 menit lagi pertemuan terakhir mereka untuk malam ini akan segera digelar.

Seorang pemuda dengan iris coklatnya masuk ke dalam Ballroom melalui pintu bernomor 0001. Ia berjalan lurus ke arah mimbar seraya membaca seberkas tulisan yang mengikuti di hadapannya, melayang sejajar dengan bahunya. Ia akan mempresentasikan gagasan itu ke hadapan sesi sidang besar yang biasanya tidak bisa selesai dalam satu hari. Ini akan menjadi hari yang panjang, pikirnya.

“The Positive Impact”. Judul itu terus menjadi pusat pemikirannya sejak diskusi dengan ayahnya 2 bulan lalu. Rencana itu adalah rencana politik yang samasekali berbeda dari rencana politik utama yang telah mereka sepakati dua hari lalu. Ia tidak berisi persoalan taktis yang menyangkut perikehidupan keluarga tapi berisi konsep dan turunan upaya politik untuk melemahkan faksi Muslim dan marga Yan, sekaligus untuk mengubah jalan penyelenggaraan Kavling Global. Itu adalah suatu maneuver yang tidak pernah dibuat Britanica sejak 250 tahun.

Sesuatu telah berhasil memberatkan hatinya dalam beberapa jam terakhir ini. Ia telah benar-benar menghabiskan seluruh saripati dirinya untuk menyusun proposal rencana politik itu. Ia harus tetap menjaga stabilitas mentalnya untuk kali ini juga, sekalipun ayah dan delapan orang laki-laki dewasa lainnya baru saja mengajaknya berbicara secara rahasia. Mereka mengatakan bahwa ia harus secara sukarela dijodohkan dengan seorang putri kerajaan Perancis sebagai konsesi gelar yang akan diterimanya di akhir pertemuan dua tahunan ini.

未来

Haryo dan Yan Tokugi bersenda gurau dengan seru sebelum Zeineth Arlo duduk di satu-satunya kursi yang tersisa di meja mereka. Keduanya terdiam agak lama sebelum akhirnya Arlo mengeluarkan suaranya untuk pertama kali, “I would like to tell you the entire story.”

“Itu menjadi terlambat karena kamu baru akan menceritakannya setelah semua naskah pertemuan sudah selesai ditulis.” Tokugi menanggapi Arlo dengan ringan.

“Ya, kami sudah tahu ceritanya lewat risalah yang kamu kirimkan setiap hari selama 10 hari kemarin.” Sementara Haryo membalasnya dengan malas.

                “Come on. There always be a story behind a paper.”

“Baiklah.” Tokugi melunak, diikuti anggukan kepala Haryo.

“Kami akan menjodohkan calon raja kami dengan Perancis. Aku tidak dapat menghalangi kehendak James. Dia telah berhutang budi pada Perancis karena kasus Mont Blanc. Raja Perancis hanya punya seorang anak perempuan tunggal. Lagipula istrinya yang sekarang, ibu dari anaknya itu bukan orang Perancis asli. Dia tidak ingin membuat putri tunggalnya berakhir sebagai the side branch setelah kematiannya. Jadi ia menginginkan supaya tahtanya bisa diteruskan kepada cucunya sebelum ia wafat. James berulang-ulang mengatakan bahwa pernikahan ini sangat dibutuhkan untuk menjaga status politik putri mereka.” Arlo akhirnya berkesempatan menjelaskan sesuatu.

“Itu sangat logis, Perancis belum menobatkan seorang penerus sampai hari ini. Tapi jika cucu kalian harus menjadi raja Perancis, bagaimana dengan Britanica?” Haryo menghadapi Arlo dengan tatapan berani.

“Mungkin kalau begitu kami harus punya dua orang Putera Mahkota.”

“Gila. Apa kau memang bermaksud mengulang sejarah Spanyol dan The Great North?”

Arlo tertawa dengan santai, “Tenang. Itu tidak akan terjadi. Aku lebih suka seumur hidup menjadi the top three dibandingkan membuat-buat upaya semacam itu. James punya banyak keponakan. Jadi di masa depan kami punya cukup banyak pilihan.”

“Baiklah, kuharap kau tidak bermain-main dengan hal semacam itu.” Tokugi menanggapi dengan datar.

Pembicaraan mereka tiba-tiba kosong. Arlo bicara dengan seorang petugas toko yang menghampirinya untuk menerima pesanan. Haryo meminum susu stroberinya dengan pelan sementara Tokugi mengangkat kaki kanannya ke atas kaki kirinya, berpikir tentang sesuatu dengan serius.

Haryo kembali membuka suaranya untuk jadi yang pertama diantara mereka, “Apa kau sudah benar-benar percaya bahwa pernikahan Akaru bukanlah pernikahan politik?”

“Walau bagaimanapun dia orang Islam.” Arlo menjawab Haryo dengan ringkas.

“Dia hanya salahsatu murid biasa di sekolah dasar yang dikepalai sepupuku.” Haryo kembali menanggapi Arlo dengan tatapan menelisik.

“Bukankah kita tidak bisa mempercayai pihak di luar kita? Jika Haiwah direkomendasikan olehmu, aku mungkin bisa percaya.”

“Justru jika aku yang merekomendasikannya kau mungkin akan tambah tidak percaya.” Haryo akhirnya membalas dengan nada sengit.

Suasana di antara mereka tiba-tiba meruncing walaupun Arlo berpura-pura santai dengan seringainya.

“Arlo, itu hanyalah pernikahan biasa. Seperti aku juga menikahi Sarah berdasarkan rekomendasi salahsatu orang dekat pamanmu. Lagipula kita telah membahasnya sebelum pernikahan itu terjadi dan saat itu kamu ikut menyetujuinya.” Tokugi menyampaikan kalimatnya dengan hati-hati, berupaya untuk membujuk Arlo. Arlo kali ini terdiam.

“Sudahlah. Kalau begitu bagaimana dengan ‘The Positive Impact’? Aku tidak melihat bahwa itu akan membawa perdamaian diantara kita.” Haryo melanjutkan interogasinya, Tokugi kembali memilih tidak bersuara sambil memperhatikan ekspresi wajah Arlo dengan simpati.

“Itu hanyalah permainan ringan. Aku akan selalu mengabarkan perkembangannya kepada kalian.” Arlo kembali berupaya membuat jawaban yang sambil lalu.

“Kurasa upaya mengembalikan propaganda ke dalam friksi politik bukanlah suatu permainan yang ringan, Arlo.” Tokugi menanggapi Arlo dengan nada persuasif yang halus, tidak memberi celah pada Haryo yang berniat menyentak Arlo.

“Itu hanyalah rancangan 20 tahunan, hanya rancangan tambahan di samping rancangan politik utama kami. Lagipula aku berniat untuk menganulirnya selepas putra mahkota lulus dari perkuliahan. Dia akan lebih disibukkan dengan pekerjaan utama perbantuan raja. Aku hanya sekedar ingin berkesempatan mendidiknya.”

“Kalau begitu, apakah ia berkemungkinan menggantikanmu dalam forum ini di masa depan?”

“Kupikir tidak bisa. Ia adalah calon raja dan akan menjadi raja. Apakah itu adil jika kami mengirimkan seluruh kepala naga sementara kalian hanya mengutus penglihatan dan penciuman dari kepala kalian?!” nada bicara Arlo meninggi, ia tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.

Tokugi dan Haryo hanya terdiam dengan maklum. Pembicaraan mereka kembali kosong dalam detik-detik yang melambat.

“Ingatlah bahwa dua hal yang membuat kita tidak pantas menyelenggarakan forum ini adalah jika salahsatu pihak berulang kali tidak percaya dengan pihak lainnya atau salahsatu pihak berulang kali tidak berhasil menggiring faksinya, tapi justru malah tergiring. Syukurlah bahwa ini baru pertama kali terjadi setelah kita menjalankan forum ini selama 5 tahun terakhir.” Haryo melunak, menyampaikan komentar getirnya dengan canggung. Ia meminta sebuah konfirmasi.

“Ya, kali ini aku memang tergiring. James menginginkan agar kami memiliki asuransi maneuver politik. Kalian seharusnya tahu bahwa masuknya seorang muslim dalam pohon keluarga marga Yan adalah momok sejarah bagi kami. Itu adalah hal yang sangat sensitif.” Arlo membalas Haryo dalam narasi yang tepat.

Lalu melanjutkannya dengan padat, “Tenanglah, aku akan mengabarkan setiap perkembangannya dengan loyalitas sebagai seorang anggota forum ini.” Ia kembali menahan kalimatnya lalu kembali mengekspresikan rasa frustasinya, “Jangan berisik!”

Tokugi dan Haryo tersenyum lucu. Isi pikiran mereka menjadi senada, pembicaraan mereka ini akan baik-baik saja.

2267 : Sinopsis

 

A woman has their greed. A man has their proud. A child has their whine. Sometimes you can’t find any tally between a depiction and its reality.

Bergabungnya Haiwah, seorang muslimah Nusantara ke pohon keturunan marga Yan dengan menikahi Akaru, membuat Vincent menyusun sebuah insurance maneuver yang disebut The Positive Impact berdasarkan dorongan ayah dan paman-pamannya. Selain itu, Vincent terjebak dalam perjodohannya dengan Zora sebagai seorang putri tunggal raja Perancis sebagai konsesi gelar yang diterimanya untuk menjadi suksesor penerus kerajaan Britanica.

Sementara itu, Akaru adalah seorang Presiden Mahasiswa Sedunia yang berhasil memenangkan pemilihan umum dengan prosentase 82% suara. Pertemuannya dengan Haryo yang merupakan pimpinan Partai Muslim membuatnya tertarik untuk menelisik tentang hubungan marganya dengan Islam yang dijembatani oleh salahsatu sosok leluhurnya, Yan Hitsujiko. Akaru juga memiliki rasa penasaran yang begitu besar dalam mencari tahu alasan dibalik kemenangan mewahnya dalam pemilu mahasiswa serta apakah ia benar-benar bertindak sebagai aktivis yang independen atau justru berada di bawah kendali orang lain yang tidak diketahuinya.

Dengan The Positive Impact, Vincent menggerakkan media kampus dan perwakilan-perwakilan kampus tingkat Kavling untuk memojokkan Akaru di Sidang Seperempat Tahun Partai Konvensional. Sementara Akaru dalam proyek permainannya bersama Haryo yang dinamai The True Positive Impact, berusaha menyuplai pengetahuan tentang sejarah perjuangan Partai Konvensional yang dimotori gagasan-gagasan Hitsujiko. Terakhir, Vincent membalas Akaru dengan kemenangan gagasannya di Sidang Tertinggi Interkavling untuk mendirikan sebuah Pusat Audit Sirkulasi Pajak di tingkat Kavling Global.

Dalam suatu rekonsiliasi yang rancu, Akaru dan Vincent bersepakat untuk membuat sebuah forum rahasia berempat dengan Zora dan Haiwah. Menempatkan diri dalam keresahan yang komplikatif, tentang maksud-maksud untuk saling menjatuhkan, untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan orang-orang muslim dengan dominasinya di Pusat Audit Sirkulasi Pajak serta untuk mencari tahu apa yang sedang dibangun ayah-ayah mereka dalam konstelasi politik dunia.

Cerita dibangun dalam dinding tahun 2267 dimana dunia telah terintegrasi dalam suatu peradaban yang disebut sebagai Kavling Global. Doktrin utama Kavling Global adalah conventional governing system yang mengharuskan kepemimpinan kolegial dalam pemerintahan. Oleh karenanya setiap taraf pemerintahan memiliki parlemen yang mengepalai kantor-kantor pemerintahan. Hal ini sekaligus menguatkan sistem kepartaian dalam suprastruktur politik dunia.

Jangkauan partai dan perkumpulan-perkumpulan tidak dibatasi. Walaupun demikian, hanya ada dua partai politik yang benar-benar mampu menjangkau seluruh wilayah Kavling Global yakni Partai Konvensional dan Partai Muslim. Dalam dominasi itu, Partai Konvensional jauh lebih unggul dibandingkan Partai Muslim. Partai Konvensional di-inisiasi oleh marga Yan bersama aktivis muslim di Nusantara pada tahun 2033. Namun pada tahun 2070, kebanyakan aktivis muslim tidak lagi terdaftar sebagai kader Partai Konvensional menyusul menguatnya peran orang-orang Britanica di partai tersebut.

Kavling global memiliki institusi ekonomi paling berpengaruh yang bernama Pusat Ketahanan Pangan dan Fiskal Interkavling. Serta institusi politik paling penting yang berbalut isolasi hak politik atas nama ilmu pengetahuan, bernama Lingkar Demosilog. Seluruh keberlangsungan sistem di bawah Kavling Global itu ditopang oleh sistem pendidikan sepuluh tahun yang diakhiri dengan sebuah ujian Intellectual Stratum (IS).

Satu-satunya pemerintahan yang berkemungkinan memiliki kepemimpinan tunggal adalah pemerintahan mahasiswa. Konsep pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan yang tidak melewati struktur kebijakan kolegial hanya dimiliki pemerintahan mahasiswa. Walaupun demikian, aktivisme mahasiswa juga terlibat dalam sirkulasi keberlangsungan partai-partai politik.